Tampilkan postingan dengan label Operaor Selluler. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Operaor Selluler. Tampilkan semua postingan

XL Dukung Penggunaan Teknologi Android bagi Disabilitas

TRIBUNLAMPUNG.co.id, BANDAR LAMPUNG-
100 peserta pelajar SD - SMA, karyawan, dan ibu rangga penyadang disabilitas netra mengikuti seminar Praktik Penggunaan Teknologi Android yang digelar PT XL Axiata Tbk (XL) di Palembang.

GM Sales Operations XL Sumbagsel Moch Sofyan Rambe menjelaskan smartphone merupakan perangkat yang bisa digunakan semua orang tanpa terkecuali untuk disabilitas.
Pasalnya, ponsel pintar sebagian besar navigasinya layar sentuh. Sistem operasi Android melalui aplikasi Google Talk Back dan aplikasi Vocalizer Damayanti (diciptakan khusus untuk kaum tuna netra) sangat membantu pengguna menikmati beragam layanan aplikasi dengan mudah.

"Aplikasi-aplikasi tersebut mengonversikan apa yang mereka sentuh di layar Android menjadi suara. Dengan cara itulah mereka bisa menerapkan semua yang ada di dalam OS Android. Mulai dari menelepon, SMS, social media, chatting hingga e-mail pun mereka lakukan dengan sangat mudah seperti orang normal pada umumnya," terangnya dalam siaran pers yang diterima Tribun, Selasa (2/9/2014).

Dia menambahkan seminar khusus bagi penyandang disabilitas dengan segala keterbatasan yang mereka miliki tetap bisa melakukan sesuatu yang sangat luar biasa, yang tidak terpikirkan sebelumnya. Untuk itulah, XL berkomitmen membantu disabilitas mengenal kemajuan teknologi, khususnya penggunaan perangkat layar sentuh Android.

Inovasi XL, Beri Banyak Kemudahan bagi Masyarakat

INOVASI menjadi kata kunci untuk memenangkan persaingan. Di sektor bisnis telekomunikasi, inovasi 10 vendor telekomunikasi di Indonesia berlangsung ketat. Bukan hanya diwarnai perang harga, inovasi produk tapi juga berlomba lomba menambah fasilitas infrastruktur.

Seperti XL, guna memperkuat posisi dan menambah fasilitas jaringan mereka, perusahaan operator terbesar kedua di Indonesia ini telah melakukan merger dengan Axis. Merger ini secara otomatis menambah frekuensi dan jumlah BTS yang dimiliki kedua belah pihak.
Tidak hanya itu, gabungan kedua perusahaan ini diprediksi akan semakin memperbesar pangsa pasar keduanya, sekaligus menambah jumlah pelanggan XL Axis. Namun bukan saja merger, inovasi produk dan layanan juga gencar dilakukan XL.

Pertengahan September ini, XL menjalin kerja sama dengan PT Asuransi Umum Mega. Kerja sama itu dalam bentuk produk Mega XL Proteksi Diri. Ini merupakan layanan asuransi kecelakaan diri yang bersifat mikro. Yaitu, sederhana, mudah, ekonomis dan singkat/segera.

Layanan ini bisa diakses dengan sangat mudah oleh seluruh masyarakat Indonesia. Dan paling menarik, premi asuransi yang harus dibayarkan pelanggan sangatlah murah, yaitu Rp 3.300. Dengan bayar senilai tersebut, pelanggan akan mendapat perlindungan selama 30 hari. Seluruh masalah klaim dan komplain juga akan ditangani oleh kantor cabang dan kantor penjualan PT Asuransi Umum Mega.

Menariknya lagi, cara menjadi peserta asuransi ini sangatlah mudah. Semudah pelanggan mengisi pulsa telepon genggam. Pelanggan cukup menekan tombol *123*4567# di ponsel atau ketik Jamin kirim SMS 4567. Selanjutnya tinggal mengikuti instruksi yang muncul. Meski premi yang dibayar pelanggan sangat murah, bukan berarti nilai pertanggungan yang didapat rendah.

Pelanggan yang mengikuti asuransi ini akan mendapatkan nilai pertanggungan sebesar Rp 20 juta. Menurut Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi, kemitraan XL dengan PT Asuransi Umum Mega ini merupakan wujud nyata dukungan pihaknya agar masyarakat dan pelanggan bisa mendapatkan perlindungan asuransi dengan mudah dan terjangkau.

"Dengan kemudahan layanan yang bisa diperoleh pelanggan melalui Mega XL Proteksi Diri ini dapat memberikan dan meningkatkan rasa aman pelanggan saat menghadapi risiko kecelakaan," ujar dia, Jumat (26/9/2014).
Tentu bukan hanya produk ini yang memberikan kemudahan bagi para pelanggan XL. XL juga memberikan perhatian cukup besar bagi perkembangan UMKM di Indonesia. Hal tersebut diwujudkan dengan meluncurkan program UKM Goes Mobile pada Mei 2014 lalu.
UKM Goes Mobile ini merupakan media digital yang dapat dimanfaatkan pelaku UMKM untuk mempromosikan produknya. UKM tidak perlu khawatir akan dikenakan biaya tinggi. Sebab, XL menjamin biaya yang dikenai terjangkau. "Dengan biaya yang terjangkau, layanan ini menjadi solusi bagi UKM untuk mendapat kesempatan tumbuh menjadi usaha yang lebih besar," jelas General Manager M Advertising XL Herwinto Chandra Sutantyo.

Dengan fasilitas ini, para UKM dapat melakukan promosi berdasarkan location based advertising (LBA) atau layanan promosi yang memanfaatkan keberadaan pelanggan XL dan bersifat sangat lokal. Promosi melalui LBA ini dilakukan dengan cara memanfaatkan jalur SMS dan MMS sebagai media penyampaiannya. 

Di samping itu, tersedia juga layanan promosi melalui aplikasi radio streaming yang dimiliki beberapa stasiun radio terkemuka seperti Radio Prambors, Radio Delta, Radio Female, Cosmopolitan FM, Hard Rock FM, GenFM, JakFM, dan Urban FM. Layanan Radio Streaming ini memanfaatkan audio, video, serta gambar sebagai media utama.
Herwinto menambahkan, layanan promosi melalui media seluler UKM menegaskan keseriusan XL dalam membantu pertumbuhan usaha lokal dan daerah agar menjadi raksasa bisnis. Penegasan ini dilakukan oleh XL dengan menyediakan tim Mobile Advertising di 5 regional miliknya yang tersebar di Indonesia yakni West Region (Sumatera), Central Region (Jawa Barat dan Jawa Tengah), North Region (Kalimantan dan Sulawesi) serta East Region (Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara).
"XL berkeyakinan dengan memanfaatkan Mobile Advertising ini masyarakat akan semakin mudah mengenali produk dan jasa milik para UKM. Hingga April 2014, sudah 450 UKM memanfaatkan layanan ini," tuturnya.

Wujud dukungan XL terhadap UMKM ini juga ditunjukkan dengan program XL Planet. XL Planet merupakan sebuah perusahaan belanja online yang kini telah cukup popular bernama Elevania. Elevania secara tidak langsung memberi ruang bagi UMKM untuk mempromosikan sekaligus menjual produk mereka secara lebih luas.

Sejak resmi beroperasi 1 Maret 2014, kini Elevenia telah menyediakan 600 ribu produk yang dijual oleh sekitar 7.000 penjual. Sekitar 90 persen lebih penjual ini merupakan pelaku usaha kecil menengah, baik korporasi maupun perseorangan.
Kategori produk yang ditawarkan di Elevenia juga cukup beragam, mulai dari produk fesyen, kecantikan, kesehatan, bayi dan anak, rumah, gadget dan komputer, elektronik, hobi, layanan dan makanan. Layanan ini juga bisa diakses melalui aplikasi yang tersedia untuk perangkat ponsel berbasis android maupun iOS.
Masih dalam rangka memberi kemudahan bagi masyarakat, XL juga gencar mendukung kampanye Gerakan Nasional Non Tunai (GNTT) yang dicanangkan Bank Indonesia. Untuk membantu program pemerintah ini, XL memiliki layanan uang elektronik bernama XL Tunai.

Seperti diketahui, saat ini pemerintah tengah menggencarkan transaksi non tunai atau cashless society. Tujuannya, bukan saja agar menciptakan transaksi yang lebih aman, tapi juga dapat menghemat uang negara. Ini karena biaya pencetakan uang baru bisa mencapai Rp 3 triliun setiap tahunnya.
Lebih besar dari itu, manfaat penggunakan sarana pembayaran non tunai dalam transaksi keuangan akan mampu menekan praktik korupsi, menekan peredaran uang palsu, sekaligus mendukung transparansi transaksi.

Memang layanan uang elektronik bukan sesuatu yang baru bagi XL. Layanan ini telah dikenalkan sejak tahun lalu bersama operator lainnya. Bahkan uang elektronik ini dapat ditransfer antaroperator selular yakni Telkomsel dan Indosat.
XL menyadari, butuh kesadaran untuk mengedukasi masyarakat untuk beralih dari transaksi tunai menjadi non tunai. Namun, XL berkeyakinan bahwa seiring perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat, peralihan transaksi ke non tunai akan menjadi sebuah kebutuhan.
Alasannya, transaksi non tunai lebih praktis, aman dan cepat. Untuk melakukan transaksi, masyarakat tak perlu membawa uang dalam jumlah banyak. Masyarakat cukup mengisi saldo XL Tunai, kemudian memanfaatkan saldo tersebut untuk berbelanja.
Chief Operatong Officer XL Willem Lucas menyatakan bahwa transaksi non tunai sudah menunjukkan peningkatan khususnya di perkotaan. Tren peningkatan ini juga seiring semakin banyaknya layanan digital yang menawarkan berbagai transaksi non tunai.
Saat ini, layanan XL Tunai telah dimanfaatkan sekitar 1,2 juta dari 68,5 juta pelanggan XL. Selain itu, XL Tunai telah bekerja sama dengan lebih dari 98 merchant dengan jumlah 10 ribu outlet di seluruh Indonesia. Cara mengaktifkan dan menggunakan XL Tunai juga sangat mudah. Pelanggan cukup mengakases melalui *123*120#.

Tantangan Jaringan
Tentu inovasi layanan dan aplikasi yang diberikan XL tidak hanya sebatas yang dijelaskan di atas. Ada banyak inovasi teknologi, inovasi layanan hingga aplikasi yang diberikan operator ini. Meski begitu, sebagai salah satu operator yang bersaing ketat dengan operator pelat merah, XL tentu masih memiliki banyak pekerjaan rumah.
Kualitas jaringan XL harus semakin ditingkatkan. Saat ini, kebutuhan masyarakat terhadap jaringan 3G sudah semakin tinggi. Bahkan kecenderungannya akan semakin besar, mengingat pengguna internet bergerak (mobile) sudah begitu besar.
Sampai saat ini pengguna internet mencapai 80 juta (data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia/APJII). Dari jumlah tersebut, 90 persennya menggunakan internet dari perangkat mobile. Sementara itu, pengguna ponsel mencapai 270 juta. Jumlah ini lebih banyak daripada jumlah penduduk di Indonesia yang mencapai 240 juta jiwa.
Pemerintah sendiri menyatakan, ketersediaan sistem informasi dan komunikasi menjadi kebutuhan dari seluruh elemen masyarakat. Karena itu, pemerintah pun sangat konsen dalam membangun sarana komunikasi dan informasi. Di bawah Kementerian Komunikasi, sudah membangun 1.000 wifi gratis di seluruh kabupaten/kota di Indonesia. Pemerintah menargetkan program 1 juta wifi. Untuk meningkatkan layanan kecepatan akses internet WiFi gratis, pemerintah akan menaikkan kecepatan dari 2 Mbps hingga 8 Mbps hingga tahun 2015.

Tentu, gerakan membangun sarana akses internet cepat juga harus diikuti operator selular lain. Agar mampu mengkover kebutuhan masyarakat pengguna internet yang diprediksi akan mencapai dua kali lipat dari posisi saat ini. Pembangunan BTS di daerah daerah yang tidak terkover listrik, tentu harus menjadi PR bersama semua operator dan pemerintah.
Agar proses koneksi komunikasi antara daerah terpencil dengan perkotaan semakin terbuka. Dan karena ketersediaan tenaga listrik di negeri ini terbatas, maka XL pun memiliki PR untuk terus mengembangkan teknologi BTS yang menggunakan sumber energi lain seperti tenaga matahari, biogas, atau lainnya.
Tingginya penggunaan data selular ini, belakangan kerap membuat trafik data internet selular lemot. Di sejumlah titik, bahkan sambungan internet sering hilang. Karena itu, penambahan infrastruktur jaringan mutlak dilakukan.

Berdasarkan data ATSI, penggunaan internet di Indonesia merupakan tertinggi ketujuh di dunia. Posisi ini hanya berbeda tipis dengan Rusia yang berada di peringkat ke 6 dan Jepang di peringkat ke 5. Sayang kondisi tersebut tidak sebanding dengan kecepatan internet yang didapat.
Berdasarkan data Akamai 2014, Indonesia tidak termasuk negara yang memiliki koneksi internet cepat, baik itu melalui sambungan kabel maupun nirkabel. Berdasarkan data Akamai ini, negara yang memiliki kecepatan akses internet lewat ponsel yakni Korea Selatan dengan 14.7 Mbps, Ukraina dengan 7.3 Mbps, Denmark dengan 7.0 Mbps, Slowakia dengan 7.0 Mbps, dan Swedia dengan 6.6 Mbps. Ironisnya, Indonesia masuk dalam jajaran 10 besar negara dengan koneksi internet lelet alias lambat.
Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring mengatakan, harus ada kerja sama antara seluruh stakeholder. "Akademik sebagai inkubator, businessman sebagai operator, government sebagai regulator. Komunitas sebagai tempat lahan pengembangan pengembangan dan aplikasi harus bekerja sama, menjadi lahan yang subur bagi pengembangan ICT ke depan," jelasnya. Hal tersebut penting dilakukan mengingat semakin tingginya kebutuhan masyarakat akan akses data cepat.
Penggunaan media sosial yang meningkat tajam di antara para pengguna internet kata dia, telah menyebabkan lalu lintas data yang besar di antara para operator seluler. Ini mendorong naiknya penggunaan solusi bisnis berbasis awan untuk perusahaan besar maupun kecil.

Tingkatkan Layanan Pelanggan
Persoalan operator selular di Tanah Air tidak hanya infrastruktur, namun juga layanan pelanggan. Berdasarkan survei global terbaru yang dilakukan oleh Ovum untuk Tektronix Communications, mengungkap bahwa buruknya layanan pelanggan menjadi alasan utama bagi sepertiga dari seluruh pelanggan seluler di dunia untuk mengganti operator selulernya (38% responden). Baru kemudian, alasan kualitas jaringan (34%), dan keterbatasan layanan dan fitur dibandingkan dengan yang ditawarkan operator selular lainnya (27%).
Menurut Sales Director Asia Tenggara Tekronix Communication Viraj Pradhan, meski akhir akhir ini, operator berlomba lomba meningkatkan investasi sumber daya manusia dan infrastruktur, layanan pelanggan tetap menjadi tantangan bagi para operator selular. Layanan pelanggan mempengaruhi indikator utama kinerja operator, seperti tingkat kepuasan pelanggan, serta berdampak pada risiko perpindahan pelanggan yang semakin meningkat.

Berdasarkan survei ini, operator selular di Tanah Air memiliki risiko kehilangan hampir seperempat dari jumlah pelanggan mereka. Ini karena 22 persen dari responden menyatakan niat mereka untuk berpindah operator selular dalam kurun waktu 12 bulan kedepan. Lebih dari sepertiga atau 36 persen dari pelanggan di Indonesia merasa bahwa layanan pelanggan yang buruk menjadi pertimbangan utama mereka berpindah operator.
Laporan ini mengungkapkan bahwa lebih dari setengah atau 55 persen responden di Indonesia menilai bahwa kemudahan untuk terhubung dengan petugas layanan secara langsung sepanjang 24 jam 7 hari dalam seminggu yang paling penting. Terkait layanan pelanggan ini, pengguna selular di Tanah Air sangat mementingkan kecepatan petugas dalam memecahkan masalah, kemudian diikuti dengan seberapa cepat konsumen dapat terhubung dengan petugas layanan pelanggan tersebut.
Menurut Viraj, tidak bisa hanya mengandalkan harga dan penawaran layanan yang kompetitif saja untuk mempertahankan dan menarik pelanggan baru. Layanan pelanggan kata dia, menjadi faktor penentu keberhasilan dan diferensisasi pasar. Sebab, produk yang ditawarkan sudah semakin sulit untuk dibedakan satu sama lain.

Satu yang menarik dari survei ini adalah harapan pelanggan terhadap operator selular kini telah berubah seiring tren konsumsi layanan data, karena kini pengguna lebih banyak menggunakan perangkat mobile untuk menjelajah web, streaming video serta akses aplikasi jejaring sosial. Karena itu sebagai wadah interaksi antara pelanggan dengan operator seluler, layanan pelanggan harus bisa mengikuti tren kebutuhan konsumen.
"Hal ini dapat diraih jika tim layanan pelanggan memiliki data kinerja yang dirangkum dari jaringan secara real time dan mampu memberikan informasi tentang 10 20 panggilan terakhir dari seorang pelanggan secara cepat kepada petugas layanan pelanggan, sehingga mereka mampu mengidentifikasi, mengkomunikasikan dan menindaklanjuti laporan yang masuk seputar penurunan kualitas panggilan suara, video, atau layanan data," kata Viraj.

Survei global yang dilakukan terhadap 3.544 konsumen dengan sampel perwakilan dari berbagai negara (Australia, India, Indonesia, Turki, Afrika Selatan, Inggris, dan Amerika Serikat) ini tentu bisa menjadi rujukan bagi seluruh operator selular di Tanah Air untuk semakin meningkatkan kinerjanya. Bagaimanapun tren perkembangan selular di masa mendatang di berbagai belahan dunia hampir mendekati sama. Kebutuhan layanan data diprediksi akan semakin tinggi, seiring makin besarnya penggunaan jejaring sosial, video streaming, dan lain sebagainya. Tentu layanan baik dari penyediaan infrastruktur, tarif layanan data yang semakin terjangkau hingga layanan pelanggan harus menjadi perhatian operator selular.(gustina asmara/tribun lampung

Sabet 4 Penghargaan! Ini Bentuk Nyata Kepuasan Pelanggan Telkomsel

TRIBUNLAMPUNG.co.id, BANDAR LAMPUNG -
Telkomsel meraih empat penghargaan ajang 2014 Frost & Sullivan Indonesia Excellence Awards di Jakarta. Penghargaan yang diraih mulai dari, Indonesia Green BTS Operator of the Year, Indonesia Mobile Broadband Service Provider of the Year,  Indonesia Mobile Data Service Provider of the Year, dan Indonesia Mobile Service Provider of the Year.

Direktur Utama Telkomsel Alex J Sinaga mengatakan, penghargaan yang diterima bukti nyata transformasi perusahaan yang dilakukan guna meraih pertumbuhan doubledigit berkelanjutan di tengah-tengah ketatnya kompetisi industri telekomunikasi di era digital saat ini.

"Penghargaan ini pun merupakan bentuk nyata kepuasan pelanggan dalam menikmati layanan data yang kami tawarkan Tentunya kami akan terus menghadirkan berbagai inovasi yang didukung oleh infrastruktur yang prima untuk memberikan pengalaman yang terbaik bagi pelanggan," ungkap Alex dalam siaran pers yang diterima Tribun, Sabtu (27/9/2014)

XL Kembali Rebut Penghargaan Ajang Frost & Sullivan 2014

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - PT XL Axiata (XL), perusahaan telekomunikasi terbesar kedua di Indonesia, kembali meraih penghargaan di ajang Frost & Sullivan 2014. XL memenangkan penghargaan kategori Indonesia Mobile Digital Service Provider of The Year. 

VP Digital Service Delivery XL Yessie D Yosetya menjelaskan, kebanggaan bagi XL bisa meraih penghargaan di tengah persaingan industri telekomunikasi yang makin ketat dari waktu ke waktu, terutama dalam layanan digital.

Frost & Sullivan Indonesia Excellence Awards 2014 merupakan ajang penghargaan bergengsi tahunan yang diselenggarakan oleh Frost & Sullivan, salah satu konsultan terkemuka di dunia asal Amerika Serikat.

"Penghargaan dari Frost &Sullivan ini didasarkan atas kinerja dan prestasi yang memuaskan dari segi pertumbuhan bisnis, pengembangan strategi bisnis dan produk, inovasi teknologi, pelayanan pelanggan serta kepemimpinan dalam menjalankan usahanya melalui perbandingan dengan pemain pasar di sektor usaha yang serupa. Penilaian dilakukan dilakukan melalui wawancara, riset dan analisis mengenai perusahaan," jelasnya dalam keterangan tertulis kepada Tribun, Sabtu (27/9/2014)

Registrasi SIM Card Baru Lebih Ketat

Jakarta – Pengguna seluler yang ingin membeli dan menggunakan SIM card baru tidak lagi bisa sembarangan mengaktifkan kartunya dengan identitas asal-asalan. Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) dan Asosisasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) akan segera memberikan pengawasan yang ketat.

Salah satu langkah yang ditetapkan, seperti yang dikatakan oleh Ketua ATSI Alexander Rusli, pelanggan seluler baru harus mendaftarkan kartunya dengan identitas asli dan harus di distributor utama.

Ini artinya, pengguna tidak bisa lagi mengisi sendiri registrasi yang biasa dilakukan ke nomor 4444 melainkan harus diisi oleh pihak distributor utama atau besar.

“Rencananya September adalah kick off resmi aturan ini. Namun, pada kenyataannya, pihak operator malah sudah memulainya. Jadi, nanti bila tidak didaftarkan secara resmi, jangan harap bisa dipakai kartunya,” tegas salah satu Anggota BRTI Riant Nugroho, di Gedung Indosat, Rabu (16/7/2014).

Saat ini, pihak BRTI dan Kominfo memang mulai aktif untuk membersihkan sekaligus merapikan segala bentuk identitas dari kartu yang dibayarkan. Apalagi kata Alex, dari 99% pelanggan prepaid hampir separuhnya adalah ‘pelanggan gelap’.

Untuk itulah keinginan bersama antara ATSI dan BRTI ini disambut dengan sosialiasi yang dimulai dari sekarang dengan membenahi sistem registrasi pelanggan prabayar.

Apalagi ditambah dengan surat edaran BRTI no 161/ BRTI/V/2014 dimana isinya adalah agar penyelenggara telekomunikasi melaksanakan registrasi pelanggan prabayar seusai dengan Peraturan Menteri No 23 Tahun 2005,

“Kita terus mendorong agar pelanggan bisa terdaftar dengan baik. Saat ini entry dibetulkan, dan data validasinya yang disiapkan,” tambah anggota BRTI yang lain, Nonot Harsono.

Volume Penyebaran SIM Card Turun 5%

Jakarta – Lembaga SIMalliance yang mewakili 86% pasar SIM global melaporkan volume pengapalan kartu SIM mencapai 4,2 miliar unit di 2013 lalu. Angka ini menurun dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 4,6 miliar.

Kemungkinan besar, total SIM card yang tersebar di seluruh dunia pada 2013 lalu mencapai 4,85 miliar unit, sedikit berkurang dibanding 2012 lalu yang mencapai 5,1 miliar unit.

Pengurangan sebesar 5% ini dikarenakan menurunnya pengapalan kartu SIM untuk segmen menengah bawah di Asia, khususnya di India menyusul adanya regulasi di negara tersebut yang mengharuskan setiap SIM card yang digunakan konsumen harus terdata dan teridentifikasi secara resmi.

Namun begitu, di belahan benua lain, volume pengapalan kartu SIM menunjukkan pertumbuhan year-on-year secara signifikan. Jepang atau Korea misalnya, yang mengalami kenaikan pengapalan sebesar 19%, atau Amerika dan Asia Timur Tengah yang masing-masing naik sebesar 11% dan 10%.

“Meski pengapalan SIM card di 2013 terpengaruh oleh regulasi prabayar di beberapa negara di Asia, terutama di Asia, namun gambaran secara global menunjukkan Asia mengalami peningkatan pasar sebanyak 7%,” ujar Frederic Vasnier, Chairman SIMalliance, seperti detikINET kutip Cellular News, Rabu (30/4/2014).

Faktor pertumbuhan yang utama di Jepang, Korea dan Amerika diperkirakan karena naiknya permintaan akan sim high-end berteknologi NFC dan LTE. Secara global, pengapalan SIM berteknologi NFC mengalami peningkatan year-on-year sebesar 159% menjadi 78 juta unit. Pasar terbesar adalah Jepang dan Korea dengan total 37 juta unit pengapalan, sementara Amerika Utara hanya 24 juta unit di 2013 lalu.

Total pengapalan ponsel ber-NFC mencapai 124 juta dalam tiga tahun terakhir ini. Riset IHS Technology mengungkapkan, di 2013 total pengapalan ponsel NFC mencapai 275 juta secara global, dan pada 2014 nanti akan meningkat lagi sebanyak 50% menjadi 416 juta. Sementara itu, Berg Insight mengestimasi sebanyak 53% perangkat ponsel ber-NFC diprediksi akan semakin siap digunakan secara luas pada 2017 nanti.

Kartu SIM LTE secara global meningkat di 2013 sebesar 103% menjadi 126 juta. Dipicu oleh semakin besarnya kebutuhan di Amerika, Asia dan Eropa. Amerika Utara masih memimpin pasar SIM LTE dengan 65 juta unit pengapalan di 2013, diikuti oleh Jepang dan Korea sebanyak 27 juta dan China sebesar 10 juta.

Perpindahan teknologi ke arah LTE dan jaringan 4G di seluruh dunia akan menjadi kunci pertumbuhan industri SIM card sepanjang 2014 ini, seiring dengan tergantikannya SIM card jenis lama.
 

PENDAFTARAN ONLINE

Pendaftaran Gratis

KETIK SMS :

DAFTAR.NomorHp.Nama.Kota

CONTOH :

DAFTAR.085612345678.AULIACELL.Pringsewu

KIRIM KE CS :

0856 6929 1230

DATA BANK DEPOSIT

NOMOR REK BNI BARU

023-129-3000
AN. CV FC SMART

114-0011-489898
AN. CV FC SMART

802-999999-7
AN CV. FC SMART

0285-0100-1129-308
A/N CV. FC SMART

351-005-4544
A/N CV FC SMART

Panduan Deposit »»

Head Office

Jalan Teuku Umar No 80 A (Depan Korem Garuda Hitam), Tanjung Karang. Bandar Lampung.
Call Center (melayani Komplain Transaksi & Konfirmasi Deposit): 0721-702 093
0721-7344550
0852-7989-8888
Pukul 08:00 - 20:00 Wib

BANNER ADS

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

STATISTIK ONLINE